pesantren modern ideal

Details

KE ARAH PESANTREN MODERN IDEAL

oleh:

Prof. DR. Ahmad Satori Ismail


SDM UNGGULAN

Seribu manusia ada yang berbobot seorang. Dan satu orang ada yang berbobot seribu, bila yang satu memiliki perhatian besar terhadap sesuatu (Syair Arab)

Dalam sebuah rumah di kota Madinah, duduklah Umar r.a bersama sahabat-sahabatnya seraya berkata kepada mereka:"Cobalah berharap!" Salah seorang mereka berkata: "Aku mengharapkan seandainya rumah ini dipenuhi dengan emas lalu aku infakkan semua di jalan Allah". Umar r.a mengulangi ucapannya : Berharaplah !. Sahabat lain berkata: "Aku mengharapkan seandainya rumah ini penuh dengan permata dan intan yang bisa aku sedekahkan semuanya"di jalan Allah." Umar r.a mengulangi sekali lagi permohonananya : Berharaplah ! Para sahabat serentak menjawab : Wahai amirul mukiminin, Kami belum menangkap apa yang kau inginkan ? Beliau menjawab : "Aku mengharapkan orang-orang seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu'adz bin Jabal dan Salim budak Abu Hudzaifah, yang semuanya bisa membantuku berjuang lii'laai kalimatillah".

 

Memang Umar r.a hebat. Beliau mengetahui betul apa yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kebudayaan agung, dan membangkitkan suatu umat yang statis. Beliau amat luar biasa ketika tidak mengharapkan emas atau intan permata tapi mengharapkan orang-orang istimewa yang berotak besar yang mampu mendukung kebenaran dan menggapai kemenangan.

 

            Setiap umat dan perjuangan yang besar membutuhkan "otak-otak besar" yang menggerakkan, membangkitkan dan mengarahkan perjalanannya. Di samping dukungan kekayaan dan sumber daya alam. Namun SDM unggulan lebih berharga dari sumber daya alam yang amat mahal sekalipun. Barangkali di sinilah rahasianya mengapa Rasulullah saw pernah bersabda :"Manusia­-manusia itu bagai seratus onta di mana anda hampir-hampir tidak menjumpai satu pun yang menjadi rohilah ( unta yang mampu membawa beban)"

 

Manusia berotak besar merupakan inti kehidupan suatu bangsa. Betapapun hebatnya suatu senjata namun tidak akan bermanfaat optimal tanpa orang yang piawai di belakangnya. Betapapun melimpah-ruahnya sumber daya alam di negara ini tidak akan maju tanpa adanya SDM yang mengelolanya. Dan betapapun hebatnya undang-undang dan peraturan dibuat, akan tetap menjadi konsep di atas kertas bila tidak ada orang-orang yang melaksanakannya. Inilah realita kehidupan.

 

            Seorang manusia bisa berbobot seribu bahkan terkadang lebih, bila memiliki spesialisasi yang ditekuninya, dan kemauan keras yang mampu membangkitkan bangsa yang tertidur semuanya.

 

            Ketika Khalid bin al Walid mengepung kota "Hirah" beliau meminta bantuan bala tentara dari Abu Bakar Shiddiq r.a. Namun beliau cuma mengirimkan seorang tentara bernama "Al Qa'qa' bin Umar At Tamimiy" dimana Abu Bakar mengatakan : "Bala tentara yang terdapat di dalamnya personil semisal al Qa'qa' tidak akan terkalahkan." Dalam kesempatan lain, beliau menegaskan :" Suara al Qa'qa' dalam tentara lebih hebat dari seribu personil".

 

Sekarang, SDM macam apa yang kita inginkan ? Apakah yang sudah tua, beruban dan sudah lemah jasmaninya ? SDM unggulan tidak harus (6-rang yang sudah tua saja. Juga tidak mesti turunan darah biru . Sebab banyak orang sudah berumur lima puluhan atau enam puluhan tapi, hatinya seperti anak kecil , menyenangi hal-hal sepele. Banyak juga turunan ningrat tapi cuma nebeng ketenaran orang tuanya. Sebuah syi'ir menegaskan :"Pemuda unggulan bukanlah yang membanggakan bapaknya tapi dialah yang mengatakan inilah hasil karyaku" .

 

Pernah terjadi, seorang anak muda belia menghadap khalifah Umawi mengatasnamakan kaumnya : Khalifah berkata : Suruhlah orang yang lebih tua darimu untuk maju menghadap. Anak muda menjawab : Wahai Amirul Mukiminin Seandainya asal orang tua saja yang harus disuruh     maju ke depan , berarti dalam umat Islam ini banyak orang yang lebih layak untuk menjadi khalifah dari pada tuan !

 

Itulah contoh anak belia yang berotak besar, dan di negara kita ini alangkah banyaknya orang tua yang berotak kerdil yang cuma menjadi robot penguasa, pemuas hawa nafsu dan pemburu materi dan jabatan. Keunggulan seseorang bukanlah ditentukan besarnya jasmani atau tingginya badan. Allah menggambarkan orang-orang munafiq bagaikan orang-orang yang bertubuh mengagumkan, bicaranya meyakinkan akan tetapi bagaikan kayu yang disandarkan dan tidak mampu mandiri. ( lihat Surat AI Munafiqun 4).

 

            Abdullah bin mas'ud adalah sahabat Rasulullah yang kurus ramping. Pernah terjadi pada suatu hari, kedua betisnya tersingkap sehingga para sahabat menertawakannya. Rasulullah saw yang menyaksikan kejadian itu mengatakan : "Apakah anda tertawa karena betisnya yang kecil ? Demi Dzat yang jiwaku ada pada genggamanNya, sungguh kedua betisnya lebih berat dalam timbangan dari gunung Uhud sekalipun".

 

Ketokohan seseorang bukanlah karena umurnya, hartanya, jabatannya atau hartanya. Akan tetapi ditentukan oleh kekuatan jiwanya yang mampu mendorong dirinya untuk melakukan hal-hal terpuji, menjauhi semua yang sepele. Kebesaran jiwa yang menjadikan dirinya besar walau berbadan kecil. Kekuatan yang memacu dirinya untuk memberi sebelum mengambil, menunaikan kewajiban sebelum menuntut hak. Ringkasnya, orang yang diharapkan adalah manusia-manusia yang berkekuatan akhlak mulia dan berakhlak kekuatan.

 

Bangsa Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta, dan hidup di atas bumi nusantara yang subur dan kaya raya, tidak akan terpuruk dalam krisis berkepanjangan bila menyiapkan SDM unggulan dan memanfaatkannya secara maksimal.

 

Bagaimana bangsa Indonesia bisa bangkit dari krisis ini, lalu mengejar negara maju, kalau rakyat dan para pejabatnya mementingkan diri sendiri, dikuasai nafsu syahwati dan tenggelam dalam dunia-dunia sepele. Kita membutuhkan manusia-manusia berotak besar ataupun SDM unggulan untuk mengangkat bangsa ini dari keterpurukannya lalu bangkit memasuki dunia kompetisi sejajar dengan negara-negara maju.

 

 

 

MUDIR PESANTREN SEBAGAI MURABBI

 

            Untuk mencapai genarasi unggulan kita memerlukan murobbi yang mampu menjadi uswah hasanah dalam memenej pesantren. Mudir pesantren harusalah sebagai murobbi yang tangguh dalam lingkungan pesantrennya. Berikut ini uraian tentang agaimana seharusnya seorang figur murobbi 

 

 

 

FIGUR MURABBI

 

Sudah menjadi hal yang lazim bagi setiap tugas atau pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh seseorang. Harus adanya kesiapan dan persiapan terlebih dahulu Sebagai contoh; membangun sebuah rumah tidak mungkin bisa terlaksana kecuali ada ahli bangunan yang memiliki pengetahuan yang lengkap tentang semua permasahan yang terkait dengan bangunan.Demikian pula membangun manusia dengan proses tarbiyah membutuhkan murobbi-murobbi profesional.

 

Proses tarbiyah pekerjaan yang sangat berat lagi tidak mudah karena tarbiyah berati mempersiapkan manusia dengan membentuk dan mempormatnya menjadi syakhsyiah muslimah da'iah setelah menghlangkan potensi negatif dan mengembangkan potensi positif pada dirinya.

 

Tarbiyah berarti berinteraksi dengan manusia makhluk yang memiliki banyak dimensi dan permasalahan yang kompleks.Orang yang berinteraksi dengan makhluk selain manusa dengan mudah dapat menundukkan dan mengendalikannya namun berinteraksi dengan manusia tidak dapat disamakan dengan berinteraksi dengan binatang atau makhluk lainnya.Oleh karena itu tidak semua orang dapat mentarbiyah, bahkan orang yang sudah memiliki pemahaman yang bagus latar belakang ilmiah yang yang memadai, kemampuan berbicara dan kemampuan berdialog yang baik sekalipun belum cukup untuk menjadi murobbi sukses.

 

Mengingat mentarbiyah manusia bukan pekerjaan yang ringan maka para murobbi dituntut untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri agar menjadi murobbi yang profesional.

 

 

 

DEFINISI MUROBBI

 

Murobbi adalah orang yang melaksanakan proses tarbiyah morabbi,dengan fokus kerjanya pada pembentukam pribadi muslim solih muslih yang memperhatikan aspek pemeliharaan [ar­ria'yah], pengembangan [at-tanmiah] dan pengarahan [at-taujih] serta pemberdayaan [at-tauzhif].

 

 

 

FUNGSI MUROBBI DI DALAM AL-QUR'AN

 

Di dalam al-Qur'an banyak ayat yang menjelaskan fungsi murobbi, seperti di dalam surat Al-Baqoroh ayat151,Ali Imron ayat 164 dan Al-Jumu'ah ayat 2.Di dalam surat Al-Baqoroh ayat 151 Allah SWT. Berfirman;

 

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ(151)

 

Artinya;

 

"Sebagaimana Kami telah utus kepada kamu seorang rasul[Muhammad] membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, membersihkan jiwa- jima kamu, mengajarkan kepada kamu al-kitab dan al-hikmah dan mengajarkan kepada kamu apa-apa yang kamu belum mengetahuinya ".

 

Di dalam ayat ini ada 3 point penting yaitu;

 

a.  Rosul diutus kepada ummatnya sebagai murobbi [kama arsalna fikum rosulan minkum]

 

b.  Rosul dalam melaksanakan fungsi tarbiyah dibekali manhaj dan penguasaannya yang benar dan utuh., [yatlu `alaikum ayatina]

 

c.  Proses tarbiyah yang dilakukan rosul memperhatikan 3 aspek penting yaitu;

 

a.     Mensucikan jiwa[wayuzakkikum] agar terbentuknya ruhiah ma'nawiah [mentalitas sepiritual].

 

b.    Mengajarkan ilmu [Wayuallimukumul kitaba valhikmata] agar terbentuknya Fikriah tsaqofiah [wawasan intelektua]

 

c.     Mengajarkan cara beramal [wayu'allimukum malam takunu ta'lamun] agar terbentuknya amaliah harokiah[amal dan harokah].

 

Jika kita perhatikan ayat di atas, tazkiatun nafs [pembersihan jiwa] menjadi skala prioritas dalam proses tarbiyah sebelum memberikan wawasan intelektualitas dan berbagai aktivitas, karena perubahan dan perbaikan manusia harus dimulai dari perubahan dan perbaikan jiwa sebagaimana. firman Allah dalam surat Ar-Ra'd ayat 11. Artinya;

 

'Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah keadaan dirinya':

 

Walapun murobbi tidak boleh mengabaikan sisi-sisi yang lainnya yaitu sisi intelektualitas dan aktivitas secara seimbang dan berkesinambungan.

 

FUNGSI MUROBBI DALAM MENJALANKAN PROSES TARBIYAH

 

Murobbi dalam melaksanakan proses tarbiyah atas mutarobbi berfungsi sebagai ;

 

l. Walid [orang tua]dalam hubungan emosional.

 

2. Syaikh [bapak sepiritual]dalam tarbiyah ruhiah

 

3. Ustadz [guru] dalam mengajarkan ilmu

 

4. Qoid [pemimpin]dalam kebijakan umum da'wah.

 

Agar fungsi-fungsi ini dapat di perankan oleh murobbi maka murobbi dituntut untuk memenuhi keriteria dan sifat-sifat murobbi sukses.

 

KRITERIA DAN SIFAT-SIFAT MUROBBI SUKSES

 

Diantara kriteria dan sifat-sifat murobbi sukses sebagai berikut ;

 

1. Memililiki ilmu.

 

Ilmu yang harus dimiliki seorang murobbi meliputi banyak cabang ilmu pengetahuan, diantaranya;

 

a.  Ilmu Syar’i, salah satu tujuan tarbiyah dalam islam menjadikan manusia agar beribadah kepada Allah ibadah baru akan tercapai hanya dengan ilmu syar'i.Yang dimaksud dengan ilmu syar'i di sini tidak berarti bahwa seorang murbbi hams alim di bidang ilmu syar'i atau sepesialis di bidang ulum syar'iah, akan tetapi ilmu syar'I yang harus dimiliki seorang murobbi adalah ilmu syar'i yang dengannya ia mampu membaca,membahas dan mempersiapkan tema-tema syar'i serta memiliki ilmu-ilmu dasar yang kemudian ia dapat mengembangkan potensi syar'inya dengan semangat belajar.

 

b.  11mu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya sebagai murobbi tentang situasi dan kodisi zaman dan masyarakatnya.

 

c. Psikologi, seperti karakter manusia sesuai dengai usianya;anak-anak,remaja,dan orang dewasa, tentang motifasi naluri dan potensi manusia serta membaca tulisan-tulisan dan kajian-kajian tentang kelompok masyarakat yang dibutuhkan dalam proses tarbiyah.Ini tidak berarti seorang murobbi harus psikolog atau ahli di bidang ilmu pendidikan,akan tetapi yang diperlukan murobbi adalah dasar-dasar umum ilmu jiwa dan memiliki kemampuan memahami hasil kajian dan penelitian di bidang ini.

 

d.  Mengetahui kesiapan, kemampuan dan potensi mutarobbi, dalam hal ini Rasul SAW. murobbi yang sangat tahu tentang kondisi, potensi, kesiapan dan kemampuan mutarobbi, sebagai contoh ketika rosul memberikan sarannya kepada Abu Dzar al-Gifari di saat ia minta jabatan kepada rosul dalam sabdanya .;

 

"Wahai Abu Dzar saya lihat kamu dalam hal ini lemah,dan saya mencintai kamu seperti saya mencintai diri saya sendiri kamu tidak layak untuk memimpin hanya dua orang sekalipun dan tidak mampu mengelola harta milik anak yatim':(HR. Muslim).

 

e.  Mengetahui lingkungan dimana mutarobbi berada/tinggal, karena lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kepribadian [mutarobbi], pengetahuan tentang lingkungan mutarobbi sangat penting bagi murobbi sebagai bahan dalam proses tarbiyah.

 

 

 

2. Murobbi harus lebih tinggi kualitasnya dari mutarobbi; dalam proses tarbiyah terjadi timbal balik antara murobbi dan mutarobbi, terjadi proses memberi dan mengambil menyampaikan dan menerima,oleh karenanya murobbi harus lebih tinggi dari mutarobbi, tidak berarti murobbi harus lebh tua dari mutarobbi sekalipun faktor usia penting akan tetapi yang lebih penting kemampuan, pengalaman dan keterampilan murobbi harus lebih tinggi dari mutarobbinya. Karenanya Rosul orang memiliki sifat-sifat di atas semua manusia di berbagai sisi.

 

3. Mampu mentransformasikan apa-apa yang dimiliki; banyak orang-orang besar yang tidak mampu memberikan dan menyampaikan apa-apa yang dimilikinya, karenanya la tidak dapat mentarbiyah walaupun memiliki kelebihan dari sisi ilmu pengetahuan, moralitas, mentalitas dan emosional, akan tetapi karena alasan tertentu mereka mereka tidak mendapatkan pengalaman lapangan khususnya di medan Tarbiyah ia hanya memiliki wawasan tioritis tidak memlki pengalaman praktis. Orang-orang seperti ini sering dijumpai di acara­acara umum seperti kajian ilmiah, seminar, dialog wawancara dan lain-lainnya mereka pandai berbicara,kuat argumentasinya dan penyampaian materint-a menarik, tapi semua itu belum cukup untuk menjadikan seseorang mampu mentarbiyah. Sering kali kita terpesona dengan orang-orang seperti itu bahkan menganggap mereka memiliki potensi tarbiyah yang paling balk tanpa melihat sisi-sisi yang lain.

 

4. Memiliki kemampuan memimpin [al-qudroh `alal qiyadah]; kemampuan memimpin menjadi salah satu kriteria asasi bag, murobbi.dan tidak semua orang memilki kemampuan ini,ada orang yang dapat mengambil keputusan menagirial,dan ada pula vang mampu memanage perusahaan atau yayasan, akan tetapi qiadah [kepemmpinan] lebih dari itu, khususnya proses tarbiyah tidak bisa dipaksakan, jika militer atau penguasa dapat menggiring manusia dengan tongkat dan senjata maka seorang yang tidak memiliki kemampuan memimpin tidak akan bi,a mentarbiyah orang lain.

 

5. Memiliki kemampuan mengevaluasi[al-qudroh `alal mutaba'ah]; proses tarbiyah bersifat terus menerus dan berkesinambungan tidak cukup denan arahan-arahan sesaat dan temporer dan tarbiyah membutuhkan evaluasi yang berkesinambungan.untuk mengetahui berhasil atau tidaknya proses tarbiyah maka evaluasi suatu hal 'yang tidak boleh diabaikan.Murobbi mengevaluasi dirinya, manhaj, sarana, media, metoda dan mutarobbi secara intensif dan integral.

 

6.  Memiliki kemampuan melakukan penilaian [al-qudroh `alat taqwim]; taqwim dalam proses bagian yang tidak terpisahkan dari tarbiyah itu sendiri murobbi harus melakukan penilaian terhadap ;

 

a.  Menilai peserta tarbiyah untuk mengetahui kemampuannya, agar murobbi dapat mentarbiyah sesuai dengan keadaannya.

 

b. Menilai peserta tarbiyah untuk mengetahui sejauh mana pecapaian muwasofat pada dirinya dan apa pengaruhnya dalam kehidupan kesehariannya.

 

c.  Menilai program tugas dankendala serta solusinya .

 

d.  Menilai permasalahan tarbawiah untuk ditangani secara profesonal dan proporsional.

 

     Taqwim yang dilakukan oleh murobbi harus dilkukan secara ilmiah dan obyektif dengan berpegang pada kaidah-kaidah taqwim yang telah baku,bukan kesan pribadi atau emosional.

 

7. Memilki kemampuan membangun hubungan emosional [al-qudroh `ala binaal-`laqoh al-insaniah]. Hubungan antara murobbi dan mutarobbi harus dilandasi kasih sayang dan cinta karena Allah.maka murobbi yang tidak menanamkan kasih sayang dan kecintaan kedam jiwa mutarobbinya , bisa dipastikan bahwa semua pelajaran dan pesan-pesannya yang disampaikan kepadanya akan berakhir dengan berakhirnya kata-kata murobbi dan tidak akan masuk kedalam hati , apa lagi untuk menjadi ilmu yang mengkristal di dalam jiwa.

 

Allah SW`I'.telah mengingatkan didalam surat Ali Imron ayat 159 :

 

Maka di.sebabkan rahmat dari A1llah kamu ber/aku lemah lembut terhadap mereka sekiranya kamu berrikapkeras lagi berhati kasar tentulah menjaarhkan diri dari sekelilingmu,karena itu maafkanlah mereka mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad ,maka bertawakkallah kepada Allah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya':

 

 

 

 

 

 Program Pendidikan dan Kurikulum.

 

 

 

            Pondok Pesantren yang ingin menjadi Lembaga Pendidikan Islam Modern yang cukup Prospektif  perlu  menerapkan 3 program pendidikan; Program Transformasi Ilmu Pengetahuan dan Bahasa, Program penanaman Nilai-nilai Islam dan Akhlaqul Karimah, serta program Da’wah dan Pengarah Masyarakat menuju kehidupan yang diridhloi oleh Allah SWT. Ini adalah pesantren yang diharapkan bisa mencetak para kadera tangguh di era globalisasi.

 

 

 

Tujuan Umum Pondok Pesantren

 

3.1 Menjunjung tinggi dan mengamalkan ajaran islam

 

3.2 Menyebarkan pemikiran islam yang jelas dan universal

 

3.3 Membentuk karakter/ pribadi muslim dan muslimah yang

 

a. Beraqidah lurus

 

b. Beribadah dengan benar

 

c. Berakhlaq mulia

 

d. Berilmu dan berwawasan luas

 

e. Berbadan sehat dan kuat

 

f. Mampu bekerja, terampil dan mandiri

 

g. Menggendalikan hawa nafsunya

 

h. Mampu dan efisien mengatur waktu

 

i. Teratur dan rapi dalam segala urusannya

 

h. Mengatur waktu dengan efisien

 

i. Mendisiplan diri dalam segala urusannya

 

j. Manfaat bagi masyarakati

 

3.4 Mempersiapkan generasi yang mampu menjadi khalifatullah dimuka bumi ini

 

3.5 Mengarahkan masyarakat ke arah kehidupan yang islami

 

Tujuan Pembelajaran khusus Pondok Pesantren Modern

 

 

 

1. Hafal Al Qur’an minimal 5 juz

 

2. Hafal hadits dari Kitabul Jami’ (Bulughul Maram)

 

3. Mampu berkomunikasi dalam bahasa arab dan inggris

 

4. Beraqidah salimah sesuai dengan manhaj Ahlu Sunnah Wal Jamaah

 

5. Mampu beribadah secara benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

 

6. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang perikehidupan Rrasulullah saw dan karakter para sahabatnya.

 

7. Mampu berbahasa Arab dan Inggris baik lisan maupun tulisan dengan baik dan benar

 

8.  Mengetahui, memahami dan mahir menerapkan kaidah-kaidah bahasa Arab yang meliputi: Nahwu, shorof dan Adab

 

9. Mampu membaca dan memahami (menelaah) literatur-literatur klasik (kitab kuning) dalam berbagai disiplin ilmu

 

10. Siap menjadi da’i

 

 

 

 

 

Wallahu a'lamu bis showab

 

 

 

 

 

                                                                                                            Jakarta,  4 Mei 2007

 

 

 

                                                                                                                        Achmad Satori Ismail

 

                                                                                                                PJS mudir pesantren terpadu Iqro

 

   
© ALLROUNDER